Brand berbicara?
Yuk kenalan sama Brand Voice
Saat kita melewati sebuah papan iklan di stasiun KRL atau MRT kemudian pada papan iklan tersebut ada tulisan yang berbunyi ‘Just Do it” tanpa harus melihat keseluruhan papan iklan, kita tau bahwa iklan itu milik bahwa merek yang bernama Nike. Bisa juga ketika dalam perjalanan, kemudian kita melihat papan reklame besar dengan cat merah dan tulisan ‘I’m loving it’, alam bawah sadar kita secara langsung merespon bahwa iklan tersebut adalah milik restoran cepat saji, McDonald. Itulah yang disebut dengan brand voice. Lalu apa sih sebenarnya brand voice tersebut? Dan mengapa brand voice begitu penting?
Brand voice atau yang dalam bahasa Indonesianya adalah suara brand adalah suatu cara unik sebuah merek dalam berkomunikasi kepada pelanggan atau audiencesnya. Brand voice ini mencakup tone atau corak suara, pemilihan kata, dan kepribadian sebuah merek yang akan ditampilkan. Gambarannya, brand voice adalah bagaimana sebuah brand ‘berbicara’ atau ‘berkomunikasi’ kepada pelanggan atau audiencesnya.
Brand voice itu berbeda dengan brand visual identity. Jika brand visual identity itu tentang logo, maka brand voice adalah tentang gaya bahasa. Jika brand visual identity membahas tentang warna maka brand voice membahas tentang tone suara. Gaya berkomunikasi dalam brand voice lebih condong kearah gaya bahasa dan kepribadian. Gaya komunikasi ini harus selaras dengan kepribadian merek dan juga target audiens merek tersebut.
Gaya komunikasi tersebut bisa bermacam-macam, mengikuti kepribadian dari merek tersebut, misalnya merek tersebut memiliki kepirbadian yang misterius, berarti brand voice dari merek tersebut haruslah dengan suara yang berat, cenderung ngebass dan pemilihan kata-katanya berlawanan dari yang bercorak funny atau menyenangkan. Perlu diingat, brand voice ini harus lah konsisten, dari awal sampai akhir. Mengapa? Karena dengan konsistensi tersebut akan lebih mudah diingat dan mengoptimalkan branding yang diinginkan sejak awal.
Seeroang professor dalam bidang marketing bernama Jennifer Aaker menyatakan bahwa ada lima kelas yang sering dijadikan acuan dasar terhadap kerangka voice brand;
- Sincerity (ketulusan)
- Excitement (kegembiraan/antusiasme)
- Competence (kompeten/dapat diandalkan)
- Sophistication (canggih/mewah)
- Ruggedness (Tangguh)
Kemudian Semrush, menyatakan bahwa ada empat spektrum tone of voice yang bisa membantu mendefinisikan brand voice :
- Lucu vs serius
- Formal vs kasual
- Elegan vs ceplas-ceplos
- Anutisas vs informatif fakta
Dari spektrum tersebut kita bisa menilai posisi voice sebuah brand.
Lalu seberapa penting brand voice ada untuk sebuah merek? Tentunya hadirnya sangat penting. Seperti contoh pertama tadi, brand voice yang sukses adalah mereka yang bisa dikenali tanpa harus dijelaskan secara panjang. Nike bisa kenali hanya dari tulisan ‘Just Do it’ atau McD bisa langsung dikenali hanya dengan tulisan atau suara yang berbunyi ‘I’m Loving it’.
Brand voice bisa menjadi pembeda dari merek-merek lainnya di lini bisnis yang sama. Perlu diingat, memiliki produk yang bagus saja tidaklah cukup, tidak akan membuat mu menjadi paling mencolok di antara lainnya. Makanya kamu harus sedikit lebih berbeda, dan brand voice bisa dengan mudah mewujudkan sedikit berbeda itu.
Sekarang kamu sudah cukup kenal kan, ap aitu brand voice? Kira-kira apa brand voice yang cocok untuk kamu? Konsultasi dengan kami sekarang, klik di sini, atau kunjungi website kami di temanmotret.com.
(ingin tau tentang branding secara keseluruhan? Baca di sini ya)
Tim branding strategy temanmotret.com


Mengapa Branding itu Penting? Panduan Branding Lengkap – Teman Motret
Desember 19, 2025 @ 4:15 pm
[…] (ketahui detailnya di sini) […]